25 Mayıs 2016 Çarşamba

Mutasi

Mutasi

Mutasi adalah kecelakan genetis yang terjadi pada makhluk hidup. Sebagaimana semua kecelakaan, mutasi menyebabkan gangguan dan kerusakan. “Evolusi” melalui mutasi adalah sama mustahilnya dengan perbaikan jam dinding dengan hantaman palu.
Sadar bahwa seleksi alam tidak berfungsi mendorong terjadinya evolusi, evolusionis lalu memunculkan konsep “mutasi” dalam teori mereka di abad ke-20. Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena pengaruh luar seperti radiasi. Evolusionis menyatakan perubahan ini menyebabkan organisme berevolusi.

Bencana Akibat Chernobyl

BENCANA AKIBAT CHERNOBYL Penyebab utama mutasi pada manusia adalah radioaktifitas. Pengaruh mutasi selalu bersifat merusak. Mereka yang terkena mutasi akibat tragedi Chernobyl menderita kanker ganas atau terlahir dengan anggota tubuh cacat sebagaimana terlihat pada gambar.

Kembar Akibat Mutasi

Kelainan yang nampak pada bayi “Kembar Siam” manusia disebabkan oleh mutasi. Tubuh katak kembar yang masih saling melekat saat lahir ini memperlihatkan kepada kita akibat dari mutasi.
Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menolak pernyatan ini, sebab semua mutasi yang pernah diketahui, hanya menyebabkan kerugian pada makhluk hidup. Semua mutasi yang terjadi pada manusia mengakibatkan kelainan mental maupun fisik seperti mongolisme (Down’s Syndrome), albinisme (albino), dwarfisme(tubuh pendek), atau penyakit lain seperti kanker.

Percobaan Pada Lalat Buah

Selama puluhan tahun, para evousionis melakukan percobaan mutasi pada lalat buah karena hewan ini berkembang biak sangat cepat dan dapat dimutasikan dengan mudah. Makhluk ini telah dimutasikan jutaan kali dalam seluruh cara yang mungkin. Kenyataannya, tidak ada satu pun mutasi menguntungkan yang teramati.
1. Kepala lalat buah sebelum dimutasi
2. Hasil mutasi: Kaki muncul di kepala.
Alasan lain mengapa mutasi mustahil menyebabkan makhluk hidup berevolusi adalah mutasi tidak menambahkan informasi genetis baru pada suatu organisme. Mutasi menyebabkan susunan informasi genetis yang telah ada menjadi berubah secara acak, mirip seperti mengocok kartu. Dengan kata lain, tidak ada informasi genetis baru yang dimunculkan oleh mutasi.
Namun, teori evolusi menyatakan bahwa informasi genetis makhluk hidup bertambah seiring dengan waktu. Sebagai contoh, bakteri dengan struktur sangat sederhana tersusun atas 2.000 jenis protein yang berbeda, sedangkan manusia memiliki 100.000 jenis protein. Tepatnya 98.000 protein baru harus “didapatkan” agar sebuah bakteri berevolusi menjadi manusia. Jadi, protein-protein ini tidak mungkin terbentuk melalui mutasi, sebab mutasi tidak dapat menambahkan apa pun pada rantai DNA.

Kekeliruan De Vries

Ahli botani Belanda, Hugh De Vries, yang menemukan mekanisme mutasi, beranggapan dirinya telah menemukan “mekanisme evolusi”. Akan tetapi, beragam percobaan dan pengamatan selama bertahuntahun menunjukkan bahwa mutasi lebih tepat dikatakan sebagai “mekanisme yang menyimpang atau merusak”.
Tidak mengherankan jika sejauh ini tak pernah diamati satu mutasi pun yang mampu memperbaiki informasi genetis dari suatu bentuk kehidupan mana pun. Kendatipun dirinya seorang evolusionis, mantan Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis, Pierre Paul Grassé, membuat pengakuan berikut ini: “Tidak peduli seberapa banyak mutasi yang ada, mutasi ini tidak menghasilkan bentuk evolusi apa pun”. 18

Kerusakan Pada Dna

Kode pada DNA menentukan sifat fisik makhluk hidup. Jika terjadi kesalahan penempatan atau perubahan posisi pada kode DNA ini karena pengaruh luar seperti radiasi, organisme tesebut akan termutasi.

Catatan kaki

18) Pierre-Paul Grass, Evolution of Living Organisms, Academic Press, New York, 1977, hal. 88

Kerumitan Yang Tak Tersederhanakan

Kerumitan Yang Tak Tersederhanakan

Semua pernyataan Darwinisme berpijak pada skenario “perkembangan bertahap”. Organ-organ dengan “kerumitan tak tersederhanakan” yang terungkap oleh ilmu pengetahuan abad ke-20 meruntuhkan skenario ini beserta keseluruhan teori evolusi.
Jika anda bertanya kepada seorang evolusionis: “Bagaimana organ mengagumkan dari makhluk hidup muncul menjadi ada?”, maka ia akan menjawab dengan penjelasan ini: “Adalah benar bahwa sistem sangat kompleks dari makhluk hidup tidak dapat terbentuk dengan tiba-tiba secara kebetulan. Namun sistem ini terbentuk dan berkembang secara bertahap. Pertama, salah satu bagian dari sistem tersebut muncul secara kebetulan. Oleh karena bagian ini menguntungkan, maka organisme ini mendapatkan keuntungan dari seleksi alam. Kemudian bagian-bagian yang lain terbentuk secara bertahap, hingga pada akhirnya terbentuklah sistem yang jauh lebih kompleks.”
Agar sebuah jam tangan dapat berfungsi, seluruh roda penggerak mesinnya harus ada. Jika satu saja dari roda ini hilang, jam tersebut tidak akan berfungsi. Struktur “rumit yang tak tersederhanakan” ini menunjukkan jam tangan tersebut hasil karya sempurna dari perancang yang sangat ahli.
Hal yang menggugurkan skenario ini sejak awal adalah sifat “kerumitan yang tak tersederhanakan” pada sistem makhluk hidup. Jika sebuah sistem tidak akan berfungsi tanpa keberadaan semua komponen pada tempatnya, dan jika ia tidak akan berfungsi manakala satu saja dari komponennya hilang, maka sistem tersebut tidak dapat disederha-nakan ke bentuk yang lebih sederhana. Sistem ini harus ada secara sempurna dan berfungsi baik, atau ia tidak berfungsi sama sekali.
Dengan mempertimbangkan lebih cermat, kita melihat bahwa sistem “rumit tak tersederhanakan” tidak mungkin terbentuk “tahap demi tahap” melalui beragam peristiwa kebetulan. Sebab “tahap peralihan” tidak akan berfungsi kecuali jika sistem tersebut berada dalam keadaan telah lengkap dan sempurna. Sebaliknya, suatu tahapan peralihan yang tak berfungsi akan tersingkirkan melalui seleksi alam dan menghilang sesuai kaidah teori evolusi.
Ketika Darwin mengemuka-kan teorinya, ia sangat meragukan masalah yang satu ini. Ia membayang-kan organ makhluk hidup dapat direduksi ke bentuk yang lebih sederhana, tapi pada saat yang sama ia juga mengkhawatir-kan adanya penemuan-penemuan terbaru yang akan meruntuhkan perkiraannya ini. Inilah sebabnya mengapa ia menulis baris-baris berikut ini dalam bukunya The Origin of Species:

Flagela Bakteri

Stuktur rumit ini adalah sebuah motor listrik. Tetapi ini tidak terdapat di dalam peralatan rumah tangga atau kendaraan, melainkan dalam sebuah bakteri. Berkat motor penggerak ini, bakteri dapat menggerakkan organnya yang bernama “flagela” dan berenang dalam air selama jutaan tahun. Motor flagela bakteri, yang ditemukan pada tahun 1970, menggemparkan masyarakat ilmiah, sebab “kerumitan yang tak tersederhanakan” ini, yang terbentuk dari sekitar 250 komponen terpisah berukuran molekul, tidak pernah dapat dijelaskan dengan mekanisme kebetulan sebagaimana yang dikemukakan Darwin.
1. Filament, 2. pengait, 3. membran sel, 4. motor pemutar
Jika dapat dibuktikan bahwa terdapat organ kompleks, yang tidak mungkin terbentuk melalui banyak perubahan bertahap dan sedikit demi sedikit, maka teori saya sudah pasti akan runtuh. 19

Rancangan Pada Mata

Mata manusia dapat berfungsi baik dengan bekerjanya sekitar 40 bagian berbeda secara bersamaan. Jika salah satu bagian ini tidak ada, maka mata tidak akan berfungsi. Sebagai contoh, membran retina di bagian belakang mata tersusun atas 11 lapisan yang berbeda. (Kanan bawah) Salah satu dari lapisan ini adalah jaringan pembuluh darah vena, sebagaimana terlihat di bawah mikroskop. (lihat gambar samping). Lapisan ini, yang memiliki jaringan paling rumit dalam tubuh manusia, mendapatkan oksigen dari sel-sel retina yang menangkap dan kemudian menafsirkan cahaya yang masuk. Semua lapisan yang lain, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Evolusionis tidak mampu menjelaskan perkembangan organ yang kompleks seperti ini.
Sekarang, teori Darwin telah terhempaskan persis seperti yang ia khawatirkan, sebab berbagai penemuan ilmiah membuktikan sebagian besar sistem pada makhluk hidup ternyata memiliki kerumitan yang tak dapat disederhanakan. Banyak struktur dan sistem, dari mata manusia hingga sel, dari proses penggumpalan darah hingga protein, yang tidak akan berguna jika satu saja dari keseluruhan bagian tersebut hilang. Tidak aneh jika tak satu pun evolusionis mampu menjelaskan melalui “tahapan” yang mana organisme ini terbentuk.

Biokimia Meruntuhkan Evolusi

Dalam bukunya “Darwin Black Box: The Biochemical Challenge to Evolution (Kotak Hitam Darwin: Sanggahan Biokimia terhadap Evolusi)” profesor biokimia Amerika, Michael Behe, mengemukakan banyak contoh tentang kerumitan yang tak mungkin disederhanakan. Sebagaimana penjelasan Behe, ketika organorgan dengan kerumitan tak tersederhanakan menggugurkan pernyataan Darwinisme, ini berarti organ-organ tersebut membuktikan bahwa kehidupan adalah hasil sebuah rancangan, dengan kata lain: diciptakan.

Catatan kaki

19) Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, hal. 189

Kebuntuan Bentuk Peralihan

Kebuntuan Bentuk Peralihan

Darwin menulis: “Jika teori saya benar, maka beragam bentuk peralihan... sudah sepatutnya ada...” Tetapi, evolusionis, meskipun telah melewati 140 tahun masa pencarian mereka, tidak dapat menemukan satupun bentuk peralihan ini.
Darwin mengakui ketiadaan fosil-fosil bentuk peralihan pada bab berjudul “Imperfection of Geological Record” (Ketidaklengkapan Catatan Geologis) dalam bukunya “The Origin of Species”.
Teori evolusi menyatakan berbagai makhluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama. Menurut teori ini, makhluk hidup mengalami proses perubahan dan menjadi berbeda satu sama lain dalam jangka waktu yang sangat lama melalui perubahan sedikit demi sedikit secara bertahap.
Jika pernyataan ini benar, maka seharusnya terdapat banyak “spesies peralihan” yang pernah hidup di alam yang menghu-bungkan beragam spesies yang berbeda. Sebagai contoh, jika burung benar-benar berevolusi dari reptil, maka milyaran makhluk setengah burung setengah reptil pastilah pernah ditemukan hidup di sepanjang sejarah.
Dalam berbagai penggalian yang dilakukan sejak masa Darwin hingga saat ini, tidak satu pun bentuk peralihan yang pernah ditemukan.
Darwin sadar bahwa tumpukan fosil seharusnya dipenuhi oleh “bentuk-bentuk peralihan” ini. Tetapi, ia juga sadar bahwa fosil-fosil bentuk peralihan ini tidak ditemukan. Itulah sebabnya mengapa ia menyediakan satu bab khusus tentang permasalahan ini dalam bukunya The Origin of Species.
Darwin berharap permasalahan besar ini akan teratasi di masa mendatang, dan bentuk-bentuk peralihan akan ditemukan melalui penggalian-penggalian baru. Kendatipun telah berusaha keras, para evolusionis belum mampu menemukan satu pun bentuk peralihan dalam kurun waktu 140 tahun sejak masa Darwin. Evolusionis terkenal, Derek Ager, mengakui fakta ini:
Jika kita mengamati catatan fosil dengan teliti, apakah pada tingkat ordo atau spesies, maka yang selalu kita dapatkan bukanlah evolusi bertahap, tapi ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup disertai kepunahan kelompok yang lain. 20

Organisme “Mozaik” Bukanlah Bentuk Peralihan

Contoh paling penting yang dikemukakan evolusionis sebagai bentuk peralihan adalah fosil burung yang disebut Archaeopteryx. Berdasarkan pada gigi dan cakar Archaeopteryx, evolusionis menyatakan binatang ini adalah bentuk peralihan antara reptil dan burung.
Akan tetapi, suatu kelas hewan mungkin saja memiliki ciriciri kelas hewan lain tanpa menjadikan ciri-ciri ini sebagai bukti bentuk peralihan. Sebagai contoh, platipus Australia berkembang biak dengan bertelur sebagaimana reptil, walaupun binatang ini tergolong mamalia.
Selain itu, ia memiliki paruh yang mirip pada burung. Para ilmuwan menyebut binatang seperti platipus ini “bentuk mozaik”. Para evolusionis saat ini mengakui bahwa bentuk mozaik tidak dapat dianggap sebagai bentuk peralihan.
The point emerges that if we examine the fossil record in detail, we find–over and over again–not gradual evolution, but the sudden explosion of one group at the expense of another.20

Bentuk Peralihan Haruslah Organisme “Yang Belum Sempurna”

Bentuk-bentuk peralihan yang seharusnya ditemukan oleh para evolusionis adalah organisme yang berbentuk pertengahan di antara dua spesies. Mereka haruslah pula memiliki organ-organ yang telah hilang dan yang masih setengah berkembang, dengan kata lain belum sempurna. Misalnya, jika invertebrata seperti bintang laut telah berevolusi menjadi ikan sebagaimana pernyataan evolusionis, maka organisme “separuh ikan” dan “separuh bintang laut” haruslah pernah hidup dalam jumlah berlimpah. Kenyataannya, pada catatan fosil, yang ada hanyalah bintang laut dan MAKHLUK REKAAN ikan yang keduanya telah berbentuk sempurna.

Binatang-Binatang Mirip Bukanlah Bentuk Peralihan 

Adanya hewan-hewan mirip dalam ukurannya yang beragam yang pernah ditemukan sepanjang sejarah bukanlah bukti bagi keberadaan “bentuk peralihan”. Jika perbedaan antara spesies kijang dan rusa sebagaimana yang kita lihat pada gambar hanya terdapat dalam bentuk peninggalan fosil, para evolusionis mungkin saja telah membuat skema evolusi rekaan dengan menyusun mereka dalam sebuah urutan dari yang paling kecil meningkat hingga ke paling besar. Padahal, hewan-hewan ini bukanlah bentukbentuk peralihan melainkan spesies makhluk hidup tersendiri.
Kemunculan tiba-tiba makhluk hidup di bumi adalah bukti bahwa mereka diciptakan oleh Allah. Pakar biologi evolusionis, Douglas Futuyama, mengakui fakta ini:
Berbagai organisme muncul di bumi dalam bentuk yang telah lengkap atau tidak lengkap. Jika tidak, mereka haruslah terbentuk dari spesies yang telah hidup sebelumnya melalui sejumlah proses modifikasi. Jika mereka muncul dalam keadaan yang sepenuhnya lengkap, maka mereka sudah pasti diciptakan oleh suatu Kecerdasan Yang Superior Maha Agung. 21

Makhluk Rekaan

Bentuk-bentuk peralihan yang ada dalam khayalan para evolusionis haruslah memiliki organ yang telah hilang atau tidak berfungsi baik. Misalnya, makhluk pertengahan antara burung dan reptil haruslah memiliki separuh sayap dan separuh paru-paru burung. Akan tetapi, tak satu pun fosil makhluk semacam ini pernah ditemukan, sebab mustahil makhluk “aneh” sebagaimana tampak pada gambar dapat hidup. Semua fosil yang ditemukan berasal dari makhluk yang telah diciptakan lengkap dan sempurna.

Catatan kaki

20) Derek A. Ager, "The Nature of the Fossil Record", Proceedings of the British Geological Association, Band 87, 1976, hal. 133
21) Douglas J. Futuyma, Science on Trial, New York: Pantheon Books, 1983. hal. 197

Zaman Kambrium

Zaman Kambrium

Jika kita meneliti lapisan-lapisan bumi, kita akan melihat bahwa kehidupan di bumi muncul secara tiba-tiba. Banyak spesies makhluk hidup yang berbeda muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan telah lengkap pada zaman Kambrium. Penemuan ini adalah bukti meyakinkan adanya penciptaan.
Lapisan bumi paling bawah yang masih menyimpan fosil-fosil makhluk hidup kompleks adalah “Lapisan Kambrium”, yang diperkirakan berumur 520 hingga 530 juta tahun. Fosil-fosil yang digali dari bebatuan zaman Kambrium berasal dari jenis hewan kompleks tak bertulang belakang seperti siput, trilobita, bunga karang, cacing, ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan dan lili laut. Yang paling menarik, semua spesies yang berbeda ini muncul secara tiba-tiba tanpa makhluk hidup apa pun yang mendahuluinya.
Contoh organisme zaman Kambrium yang sekarang masih ada: Nautilus
Richard Monastersky, editor majalah Earth Sciences, yang merupakan salah satu terbitan populer evolusionis, mengakui fakta yang membuat para evolusionis keheranan ini:
Setengah milyar tahun yang lalu, bentuk-bentuk teramat kompleks dari hewan-hewan sebagaimana yang kita lihat sekarang muncul secara tiba-tiba. Masa ini, persis di permulaan Zaman Kambrium bumi, sekitar 550 juta tahun yang lalu, menandai ledakan evolusioner yang memenuhi laut dengan makhluk-makhluk kompleks pertama di bumi. Kelompok binatang besar yang ada saat ini telah ada sejak awal masa Kambrium dan mereka telah berbeda satu dari yang lain sebagaimana mereka saat ini. 22

Sistem Kompleks

Sebagian besar makhluk hidup yang muncul secara tiba-tiba pada Zaman Kambrium memiliki sistem yang kompleks seperti mata, insang, sistem sirkulasi, dan struktur fisiologi yang telah berkembang. Semua sistem ini tidak berbeda dengan yang ada pada kerabat modern mereka.
sebuah pertanyaan yang masih tak terjawab oleh evolusionis. Pakar zoologi Oxford, Richard Dawkins, salah satu pendukung terkemuka teori evolusi di dunia, membuat pengakuan sebagaimana berikut:
Mereka (spesies di Zaman Kambrium) seolah-olah ditempatkan begitu saja di sana, tanpa melalui sejarah evolusi. 23
Beragam organisme yang hidup pada zaman Kambrium
Ledakan Kambrium adalah bukti nyata bahwa Allah menciptakan semua makhluk hidup. Satu-satunya penjelasan dari kemunculan makhluk hidup secara tiba-tiba tanpa nenek moyang evolusi adalah penciptaan. Berkenaan dengan hal tersebut, Darwin menulis: “Jika beragam spesies, yang berasal dari genera atau famili yang sama, benar-benar telah memulai kehidupan secara bersamaan, maka fakta ini akan berakibat fatal bagi teori perubahan dengan modifikasi perlahan melalui seleksi alam.”. 24
Pukulan mematikan yang dikhawatirkan Darwin ini berasal dari zaman Kambrium, yakni bagian paling awal dalam catatan fosil.

Mata Trilobita

Mata trilobita, salah satu spesies zaman Kambrium, memiliki rancangan yang luar biasa. Mata ini tersusun atas ratusan mata kecil. Di samping itu, setiap mata kecil ini memiliki dua lensa yang berbeda. Diperkirakan bahwa mata kecil yang disebut “struktur doublet” ini memungkinkan trilobita untuk melihat secara sempurna di dalam air tanpa kesalahan. Seorang professor geologi University of Harvard, David Raup mengatakan: “Trilobita menggunakan rancangan optimal yang untuk membuatnya saat ini membutuhkan seorang insinyur optik yang terlatih dan imajinatif”.25 Struktur mata yang sempurna ini muncul secara tiba-tiba 530 juta tahun lalu dalam bentuknya yang telah sempurna. Selain itu, sistem mata majemuk trilobita ini telah bertahan dan masih ada hingga saat ini tanpa perubahan sedikitpun. Sejumlah serangga, seperti lebah dan capung, memiliki struktur mata yang sama seperti pada trilobita.
Struktur mata majemuk trilobita

Catatan kaki

22) Richard Monestarsky, "Mysteries of the Orient", Discover, April 1993, hal. 40
23) Richard Dawkins, The Blind Watchmaker, London: W. W. Norton 1986, hal. 229
24) Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, hal. 302

Ikan dan Amfibi

Ikan dan Amfibi

Ikan dan amfibi muncul di bumi secara tiba-tiba dan tanpa nenek moyang apa pun. Evolusionis tidak dapat menjelaskan asal-usul kedua kelompok makhluk hidup ini.
Evolusionis beranggapan bahwa invertebrata laut yang ditemukan pada lapisan Kambrium berevolusi menjadi ikan dalam waktu puluhan juta tahun. Akan tetapi, tidak ditemukan satu pun mata rantai peralihan yang menunjukkan evolusi pernah terjadi di antara jenis invertebrata dan ikan ini. Invertebrata, atau hewan tak bertulang belakang, memiliki jaringan keras di luar tubuh mereka dan tidak memiliki rangka dalam. Sebaliknya, ikan memiliki tulang, yakni jaringan keras di dalam tubuh mereka. Dengan demikian, evolusi invertebrata menjadi ikan adalah sebuah perubahan sangat besar yang seharusnya telah meninggalkan bentuk-bentuk mata rantai peralihan yang menghubungkan kedua kelompok hewan ini.
Sebuah fosil berusia 280 juta tahun yang berasal dari spesies katak yang telah punah. Penemuan ini mengungkapkan bahwa katak muncul secara tibatiba di bumi tanpa pendahulu apa pun.
Evolusionis telah menggali lapisan-lapisan fosil selama kurang lebih 140 tahun untuk mencari bentuk-bentuk yang diduga ada tersebut. Mereka telah menemukan jutaan fosil invertebrata dan jutaan fosil ikan; tapi tak seorang pun pernah menemukan satu bentuk pertengahan di antara keduanya.
Menghadapi fakta ini, ahli paleontologi evolusionis, Gerald T. Told, mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
Ketiga subdivisi ikan bertulang muncul pertama kali dalam catatan fosil pada saat yang kira-kira bersamaan….Bagaimana mereka berasal? Apa yang menyebabkan mereka sangat berbeda?... Dan mengapa tidak ada jejak bentuk-bentuk peralihan sebelumnya?26
Skenario evolusi juga mengatakan bahwa ikan, yang berevolusi dari invertebrata, di kemudian hari merubah diri mereka sendiri menjadi amfibi yang dapat hidup di darat. (Amfibi adalah hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak). Tapi, sebagaimana yang ada dalam benak anda, skenario ini pun tidak memiliki bukti. Tak satu fosil pun yang menunjukkan makhluk separuh ikan separuh amfibi pernah ada. Meskipun enggan, kenyataan ini dibenarkan oleh tokoh evolusionis terkemuka, Robert L. Carrol, penulis buku Vertebrate Paleontology and Evolution: “Kami tidak memiliki fosil berbentuk pertengahan antara ikan riphidistian dan amfibi-amfibi awal.” 27
Singkatnya, ikan dan amfibi muncul secara tiba-tiba dan keduanya telah memiliki bentuk sebagaimana yang ada sekarang tanpa ada pendahulu. Dengan kata lain, Allah telah menciptakan mereka masing-masing dalam bentuk yang sudah sempurna.
Tidak dijumpai perbedaan sedikit pun antara fosil ikan yang hidup ratusan juta tahun lalu dengan ikan modern. Ikan telah diciptakan sebagai ikan, dan akan senantiasa tetap seperti itu.
Di antara kontradiksi penting dalam skema rekaan evolusi ikan ke reptil adalah pembentukan kulit organisme tersebut. Semua ikan memiliki sisik pada kulit tubuhnya sedangkan amfibi tidak. Reptil yang diduga berevolusi dari amfibi juga memiliki sisik. Jika kita beranggapan bahwa terdapat hubungan evolusi di antara organismeorganisme ini, kita pun harus mampu menjawab mengapa sisik, yang ada pada ikan, menghilang pada amfibi, dan kemudian muncul kembali pada reptil. Sayangnya, para evolusionis tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

Permasalahan Seputar Sisik

1. Ikan, 2. Amfibi, 3. Reptile

Keajaiban Metamorfosis

Katak awalnya dilahirkan di air, hidup di sini untuk beberapa saat, dan kemudian muncul di darat setelah menjalani proses yang dikenal dengan “metamorfosis”. Sejumlah orang beranggapan bahwa metamorfosis adalah bukti evolusi, padahal keduanya tidak ada kaitannya satu sama lain. Satu-satunya mekanisme perkembangan yang dikemukakan oleh evolusi adalah mutasi. Metamorfosis tidak muncul akibat peristiwa kebetulan sebagaimana mutasi. Sebaliknya, perubahan ini dihasilkan oleh kode genetik dalam katak. Dengan kata lain, fakta telah membuktikan bahwa ketika seekor katak lahir, ia akan memiliki tubuh yang memungkinkannya hidup di darat.
Klaim para evolusionis tentang perpindahan dari air ke darat mengatakan bahwa ikan, dengan kode genetik yang secara khusus dirancang untuk kehidupan di air, berubah menjadi makhluk darat sebagai hasil dari mutasi acak dan kebetulan. Namun, dengan alasan ini, sesungguhnya metamorfosis malah meruntuhkan teori evolusi daripada mendukungnya. Sebab kesalahan terkecil dalam proses metamorfosis berarti kematian atau cacat bagi organisme tersebut. Sangatlah penting bagi metamorfosis untuk berlangsung secara sempurna. Adalah mustahil jika proses serumit ini, yang tidak memberi peluang bagi kesalahan, untuk terjadi melalui mutasi acak dan kebetulan sebagaimana pernyataan evolusi. Pada kenyataannya, metamorfosis adalah sebuah keajaiban yang mengungkapkan kesempurnaan dalam penciptaan.
1.Keturunan yang akan dihasilkan dari telur-telur katak yang terbuahi akan berjumlah cukup banyak sehingga mampu menutupi telaga atau sungai yang mengalir.
2. Keturunan katak yang menetas dari telur yang terbuahi adalah organisme yang dirancang untuk hidup dalam air sebelum menjalani metamorfosis. Ia mengambil oksigen melalui insang layaknya ikan. Katak pada tahap ini disebut “berudu”.
3. Melalui metamorfosis, katak mengalami perubahan bentuk. Di akhir perubahan yang sempurna ini, mereka menjadi teradaptasi untuk hidup di darat.

Catatan kaki

25) David Raup, "Conflicts Between Darwin and Paleontology", Bulletin, Field Museum of Natural History, Band 50, Januar 1979, hal. 24
26) Gerald T. Todd, "Evolution of the Lung and the Origin of Bony Fishes: A Casual Relationship", American Zoologist, Band 26, No. 4, 1980, hal. 757
27) R. L. Carroll, Vertebrate Paleontology and Evolution, New York: W. H. Freeman and Co. 1988, hal. 4.

Kekeliruan Tentang Coelacanth

Kekeliruan Tentang Coelacanth

Hingga 70 tahun yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai “nenek moyang hewan-hewan darat”. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini.

Berakhirnya Sebuah Mitos

Coelacanth ternyata masih hidup! Tim yang menangkap coelacanth hidup pertama di Samudra Hindia pada tanggal 22 Desember 1938 terlihat di sini bersama ikan tersebut.
Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth, yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an.
Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup! Tak diragukan lagi, penemuan ikan coelacanth “hidup” ini memberikan pukulan hebat bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih hidup.28 Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.
Keberadaan coelacanth yang masih hidup mengungkapkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan pernyataan mereka, coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah kantung lemak.29 Terlebih lagi, coelacanth, yang dikatakan sebagai “calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan lautan untuk menuju daratan”, pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati rentang kedalaman 180 meter dari permukaan laut. 30

Gambar Rekaan Dan Seekor Coelacanth Asli

Hingga diketemukannya spesimen hidup coelacanth, para evolusionis menampilkan ikan ini sebagai nenek moyang dari “semua hewan darat”. Gambar sebagaimana di atas dikemukakan sebagai fakta dan ditampilkan pada buku-buku pelajaran. Ketika satu contoh yang masih hidup dari ikan tersebut tertangkap (gambar samping), seluruh pendapat para evolusionis terhempaskan.
1. Sebelum contoh hidup ikan Coelacanth tertangkap, para evolusionis meyakini bahwa ikan ini memiliki organ yang berbentuk separuh sirip dan separuh kaki yang memugkinkannya merangkak di daratan. Ketika coelacanth hidup ini diperiksa, maka diketahui bahwa siripnya tidak memiliki fungsi tambahan seperti itu.
2. Evolusionis mengklaim bahwa ikan tersebut memiliki paruparu primitif. Kenyataannya, organ yang dianggap sebagai paru-paru primitif ini adalah sebuah kantung lemak.
3. Dinyatakan bahwa struktur otak Coelacanth juga menyerupai yang ada pada hewan darat. Namun, terungkap bahwa otaknya sama sekali tidak berbeda dengan ikan modern

Perbedaan Antara Sirip Dan Kaki

Alasan mengapa evolusionis membayangkan Coelacanth dan ikan yang serupa sebagai “nenek moyang hewan darat” adalah dikarenakan ikanikan ini memiliki sirip bertulang. Mereka menganggap bahwa tulang-tulang ini berubah menjadi kaki seiring perjalanan waktu. Akan tetapi, terdapat perbedaan mendasar antara tulang ikan ini dengan kaki hewan darat: Tulang ikan tidak tersambungkan ke rongga spina hewan tersebut, sebagaimana kita lihat pada gambar di atas. Sebaliknya, pada hewan darat, tulang-tulang secara langsung terikat pada rongga tulang belakang, sebagaimana kita lihat pada gambar di bawah. Oleh karenanya, klaim bahwa sirip ini berubah secara bertahap menjadi kaki sama sekali tidak berdasar.
1. Tulang-tulang tidak terikat pada rongga tulang belakang
2. Tulang-tulang terhubungkan pada rongga tulang belakang

Catatan kaki

28) Jean-Jacques Hublin, The Hamlyn Encyclopdia of Prehistoric Animals, New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120
29) Jacques Millot, "The Coelacanth", Scientific American, Band 193, Dezember 1955, hal. 39
30) Bilim ve Teknik, November 1998, Band 372, hal. 21

Reptil

Reptil

Teori evolusi juga tidak mampu menjelaskan asal-usul reptil. Anggota kelas khusus ini telah muncul dalam keadaan telah berbeda tanpa mengalami proses evolusi apa pun. Ciri-ciri fisiologi reptil sangatlah berbeda dengan amfibi, yang dianggap sebagai nenek moyangnya.
Dinosaurus, kadal, kura-kura dan buaya… Semua spesies ini termasuk dalam kelas yang disebut “reptil”. Beberapa reptil, seperti dinosaurus, telah punah tetapi sebagian lagi masih hidup.

Salam Paham Terhadap Seymouria

Suatu ketika evolusionis pernah mengklaim bahwa fosil Seymouria (kiri) adalah bentuk peralihan antara amfibi dan reptil. Menurut skenario ini, Seymouria adalah “nenek moyang primitif dari reptil”. Akan tetapi, berbagai penemuan fosil berikutnya menunjukkan bahwa reptil telah hidup di bumi sekitar 30 juta tahun sebelum Seymouria.32 Berdasarkan penemuan ini, evolusionis harus melepaskan klaim mereka berkaitan dengan Seymouria.
Reptil memiliki sejumlah ciri khusus, misalnya: tubuh mereka yang tertutupi oleh struktur yang disebut “sisik”. Mereka adalah hewan berdarah dingin, yang berarti mereka tidak dapat menghasilkan panas tubuh sendiri. Itulah sebabnya mengapa mereka membutuhkan sinar matahari langsung untuk menghangatkan tubuh. Mereka berkembang biak dengan cara bertelur.

Akhir Dari Dinosaurus

Dinosaurus adalah hewan darat terbesar yang pernah hidup. Dengan rancangan tubuh mereka yang sempurna, mereka pernah hidup di bumi dalam kurun waktu yang lama. Menurut kesepakatan para ilmuwan, mereka menjadi punah karena bencana meteor. Fenomena ini telah sengaja direncanakan secara sempurna untuk menjadikan bumi sesuai untuk kehidupan mamalia dan, khususnya, manusia yang diciptakan setelah dinosaurus (menurut catatan geologis).
Evolusionis tidak dapat menjelaskan bagaimana reptil muncul pertama kali menjadi ada. Jawaban umum yang diberikan evolusionis atas permasalahan ini adalah reptil berevolusi dari amfibi. Namun, tidak ada satu bukti pun yang membenarkan hal ini. Sebaliknya, penelitian terhadap amfibi dan reptil menunjukkan terdapat perbedaan fisiologis yang sangat besar antara kedua kelompok hewan tersebut, dan binatang separuh reptil separuh amfibi tidak mungkin dapat hidup.

Penyu Tetap Saja Menjadi Penyu

Tidak ada perbedaan antara fosil reptil purba dengan kerabat mereka yang masih hidup sekarang. Penyu laut berusia 100 juta tahun di sebelah kiri masih saja sama persis dengan kerabat modernnya.
Tidak mengherankan jika binatang seperti ini tidak pernah ditemukan dalam catatan fosil. Ahli paleontologi evolusionis terkenal, Lewis L. Caroll, mengakui fakta tersebut dalam artikelnya yang berjudul “The Problem of The Origin of Reptile”:
Sayangnya, tidak diketahui adanya satu contoh pun nenek moyang reptil yang sesuai sebelum kemunculan reptil-reptil sejati. Ketiadaan bentuk-bentuk pendahulu ini menimbulkan banyak permasalahan dalam peralihan dari amfibi ke reptil yang tidak terjawab. 31

Perbedaan Pada Telur

Salah satu kontradiksi dari skenario evolusi amfibireptil adalah struktur telurnya. Telur amfibi, yang berkembang di dalam air, memiliki lapisan lendir dan membran permeable. Sebaliknya, telur reptil memiliki struktur padat dan tak tembus air, yang telah disesuaikan dengan kondisi darat, sebagaimana yang kita saksikan pada rekonstruksi telur dinosaurus ini. Agar seekor amfibi dapat berubah menjadi reptil, telur-telurnya harus berubah menjadi telur reptil. Akan tetapi, ini adalah mustahil.
Di samping itu, terdapat pula batas-batas yang memi-sahkan beragam spesies reptil itu sendiri seperti reptil, dinosaurus atau kadal. Semua spesies berbeda ini muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan telah berbeda satu dari yang lain di bumi, karena Allah memang telah menciptakan mereka demikian. Fakta ini dinyatakan dalam Alquran:
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan kedua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. An-Nuur, 24:45)

Catatan kaki

31) Robert L. Carroll, Vertebrate Paleontology and Evolution, New York: W. H. Freeman and Co., 1988, hal. 198
32) Die ltesten Seymouria Fossilien gehren zur Alt Permiyen Erdschicht, diese sind nmlich 280 Millionen Jahre alt. Die als die ltesten Reptilienarten angesehenen Hylonomus und Paleothyris wurden in den altpennsilvanischen Erdschichten gefunden. Diese Erdschichten sind 330-315 Millionen Jahre alt. (Barbara J. Stahl, Vertebrate History: Problems in Evolution, Dover, 1985. hal. 238-39)